Memaknai 5 Menit Sambutan
Saya tidak pernah menyukai mendengarkan pidato atau sambutan sebelum mendengarkan beliau berbicara.
Pidato atau sambutan identik dengan seremonial. Rangkaian sapaan penghormatan, pesan yang kadang berulang disampaikan, ataupun sederet laporan yang dibacakan.
Tapi, saya menemukan makna yang berbeda dari sambutan dua orang inspiratif ini.
Pak Anies Baswedan dan Pak Hikmat Hardono (HH). Duo kebanggaan dan kesayangan di Indonesia Mengajar.
Pak Anies (pendiri IM), memiliki kekuatan pemilihan kata yang kuat dan wejangan ABC yang mampu menggerakkan hati.
Bapake HH (Direktur IM pada saat sy menjadi PM dan officer) memberikan pesan sederhana dan lebih puitis. Mengutip sajak, atau diakhiri dengan kalimat yang indah yang mampu menyentuh rasa.
Sebagai officer yang dulu berhubungan untuk meminta beliau-beliau untuk memberikan prakata pada buku panduan PM atau memberikan sambutan acara, hal yang tak luput ditanyakan oleh duo Bapake adalah siapa yang perlu disebutkan dan disapa, fakta yang perlu di highlight (jumlah pendaftar, peserta, hal yang menarik).
Saya teringat saat menjadi PIC kegiatan #IUrun di FX Sudirman di tahun 2014. Pak Anies hadir memberikan sambutan. Setelah acara selesai, beliau secara pribadi menelpon saya dan menanyakan kontak mitra-mitra yang terlibat kegiatan untuk diberikan apresiasi secara personal. Saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Pelajaran tersebut yang terkenang selalu, walaupun sudah lebih dari 11 tahun yang lalu saya berinteraksi dengan beliau-beliau.
Bahwa pidato atau sambutan adalah kesempatan penting untuk kita menyampaikan gagasan. Walaupun 5 menit tetapi menjadi bermakna dan kuat.
Di Indonesia Mengajar juga lah tempat pertama yang mengajarkan saya untuk 'memanusiakan manusia'. Tidak dilihat berdasarkan apa yang kita kenakan tetapi menghargai setiap gagasan yang hal sederhana yang kita lakukan.
Bekal tersebut yang mempengaruhi cara saya bermimpi, bersikap dan keinginan memberikan sambutan dengan lebih bermakna.
Apalagi dengan peran sekarang sebagai ketua komite SD Baiturrahman yang akan dimintai sambutan dalam berbagai acara ceremonial sekolah.
Kemarin sambutan pertama di depan forum orang tua (yang bukan saja koordinator kelas) sebagai ketua komite. Pada acara penandatanganan MoU walisantri kelas 1 dan sekolah.
Saya berusaha menyiapkan sambutan dengan sepenuh hati, dan menyampaikan harapan saya di sana. Membacanya berulang-ulang, mengingatnya, melatihnya berkali-kali.
Alhamdulillah mendapatkan respon yang positif, dan memberikan semangat dan energi baru untuk saya agak lebih percaya diri lagi.
Kalau kata Ayah Adskhan, "gak perlu terlalu berbangga hati, tapi tetap perlu mengapresiasi diri atas capaian tersebut"
Terima kasih ya Allah telah mengilhamkan, membimbing lisan dan langkah dan semoga apa yang disampaikan bisa memberikan kebermanfaatan.. Aamiin
Yuk tetap semangat Nani.
Ingat! "Tak perlu sempurna, cukup setia pada makna."


Komentar