Saung Belajar

Riuh suara anak-anak tertawa dan mengobrol di depan rumah orang tua angkatku. Aku baru saja melipat mukena selepas shalat Ashar. Mereka sudah datang rupanya. Rutin, setiap hari dari mulai ba’da ashar sampai mau magrib anak-anak datang, bermain dan belajar di saung di depan rumah orang tua angkatku. Tidak hanya muridku yang kelas 6 saja, anak-anak kelas 1 sampai yang sudah lulus SD pun datang. Tak banyak memang, hanya bersebelas atau bertiga belas. Tetapi jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan muridku sendiri yang hanya 8 orang. Apalagi dusun tempatku tinggal tergolong sepi. Sebuah pemukiman transmigrasi di kecamatan Tambora yang kian hari semakin sepi ditinggalkan penduduknya. Selalu saja ada yang pergi ke Bima. Sehari, dua hari atau bahkan berhari-hari dan tak jarang membawa anaknya yang masih sekolah ikut. Atau justru mereka pergi meninggalkan rumah-rumah tansmigran disana dan kembali ke tempat asalnya karena merasa tanah SP3 tak cukup subur untuk menghidupi mereka. Tetapi t...