It is not about position, it is about contribution

Sabtu, 27 Oktober 2012

Mengisi dan Mengirim Wesel Pos (B.Ind/VI/I)

Abstraksi

Mengisi formulir wesel pos  merupakan salah satu kompetensi dasar dari pelajaran Bahasa Indonesia kelas 6.  Menjelaskan cara mengisi dan mengirim wesel pos menjadi hal penting  karena tidak semua orang memiliki  rekening bank yang bisa digunakan untuk mengirim uang secara praktis. Bagaimana cara mengajarkannya kepada siswa kelas 6 SDN Oi Marai? Simulasi di dalam kelas dirasa menjadi metode yang cukup efektif, karena akses untuk menuju kantor pos di kecamatan Tambora yang cukup jauh sehingga kurang memungkinkan apabila siswa langsung melakukan simulasi ke kantor pos.

 

Latar Belakang

Kondisi Kelas

Jumlah siswa kelas 6 SDN Oi Marai sebanyak 8 orang dengan gaya belajar yang berbeda-beda (visual, auditori, kinestetik). Siswa SDN Oi Marai merupakan warga transmigran dari daerah kota Bima dan Lombok.

Latar belakang penggunaan metode

Metode simulasi digunakan untuk memfasilitasi semua gaya belajar siswa, selain itu akses untuk menuju kantor pos cukup jauh sehingga tidak memungkinkan untuk diadakn kunjungan langsung ke kantor pos.

Latar belakang penyampaian materi

Materi  ini disampaikan sesuai dengan SKKD pelajaran bahasa Indonesia kelas 6 semester I, materi wesel pos dirasa penting dan bisa dijadikan cara yang efektif untuk mengirimkan uang oleh warga SP3 kepada saudaranya di Kota Bima dan di daerah Lombok karena akses ke bank terdekat sangat jauh, dan masih sangat sedikit warga SP3 yang memiliki rekening di Bank.

Penjelasan Materi

Wesel pos merupakan layanan yang disediakan oleeh kantor pos untuk mengirimkan uang.
Bagian-bagian dari formulir wesel pos yaitu :
1.       Nama Pengirim
2.       Alamat Pengirim
3.       Nama Penerima
4.       Alamat Penerima
5.       Jumlah uang yang dikirim
6.       Tanda tangan pengirim
7.       Tanda tangan petugas kantor pos
8.       Tanda tangan penerima
9.       Tanda tangan petugas pengiriman wesel
10.   Berita pengiriman


Materi Pembelajaran

Mengisi dan mengirimkan wesel pos.

Alat dan Bahan

1.       Formulir wesel pos
2.       Uang-uangan
3.       Kertas
4.       Amplop
5.       Alat tulis
6.       Gunting

Metode

Metode yang digunakan saat proses pembelajaran yaitu : informasi, diskusi, dan demonstrasi

Langkah Pembelajaran

1.       Pendahuluan
Apersepsi dan motivasi
Menyampaikan kompetensi dan indikator yang diharapkan
2.       Kegiatan Inti
& Eksplorasi
a.       Guru memberikan sebuah kasus mengenai warga SP3 yang ingin mengirimkan uang untuk biaya kuliah anaknya di Mataram, kemudian siswa diminta  memikirkan cara efektif untuk mengirimkan uang. Siswa diminta menyebutkan alternatif-alternatif cara yang digunakan, dan guru mencatatnya di papan tulis. Siswa diminta menganalisis kekurangan dan kelebihan setiap cara.
b.      Guru memperkenalkan cara-cara pengiriman uang seperti menggunakan rekening di Bank, mentransfer uang menggunakan ATM, menggunakan wesel pos, mengirim uang menggunakan kurir. Siswa diminta memikirkan cara yang paling efektif digunakan oleh warga SP3 yang belum mempunyai no rekening Bank.
3.       & Elaborasi
a.       Guru mengeluarkan fomulir wesel pos, siswa diminta mengamati bagian-bagian formulir dan mendiskusikannya. Siswa berdiskusi dalam kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4 orang.
b.      Setiap kelompok diminta mempresentasikan bagian-bagian wesel pos, siswa dari kelompok lain boleh mengomentari dan mengajukan pertanyaan untuk kelompok yang sedang tampil. Apabila setiap kelompok sudah selesai presentasi, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan bagian-bagian dari formulir wesel pos.
c.       Guru mengajak siswa untuk bermain peran dan  membagi siswa setiap kelompok menjadi :
·         Petugas di kantor pos
·         Pengirim wesel pos (Ama / bapak)
·         Kurir pos
·         Penerima wesel pos (Ana/ anak yang sedang kuliah di Jawa)

Setiap kelompok diberikan :
-          Kertas untuk menulis surat, membuat prangko-prangkoan, formulir wesel pos
-          Uang mainan

Cerita yang dimainkan:
Ana menulis surat kepada Amanya yang berisi permohonan mengirimkan uang untuk membayar uang kuliah di Mataram. Ana mengirimkan suratnya melalui kantor pos. Kurir pos menyampaikan surat tersebut kepada Amanya. Ama membaca surat tersebut kemudian mengirimkan sejumlah uang dengan menggunakan wesel pos. Petugas pos melayani proses pengiriman uang, kemudian kurir pos menyampaikan uang tersebut kepada Ana. Ana yang sudah mendapatkan uang menulis surat lagi kepada Amanya untuk memberi kabar bahwa uangnya sudah sampai.

& Konfirmasi
Setelah simulasi selesai, guru meminta siswa untuk mengomentari simulasi yang dimainkan dan perasaan mereka. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya apabila masih ada hal yang belum jelas mengenai cara pengisian dan pengiriman wesel pos, kemudian guru memfasilitasi siswa untuk membuat kesimpulan mengenai fungsi, bagian-bagian, cara pengisian dan pengiriman wesel pos.

Lesson Learned

Pendidikan karakter yang disisipkan

Ketelitian, tanggung jawab, percaya diri.

Road to Bima (1)

Dulu saat masa transisi dan  PM 2 bertanya apa yang akan aku lakukan saat ada masalah, maka aku menjawabnya menulis. Namun sepertinya itu tak terealisasi. Justru aku sangat merasakan akhir-akhir ini aku jadi sangat jarang sekali menulis. Padahal banyak hal yang bisa aku tulis disini. Jadi Pengajar Muda, sebuah mimpi yang dulu aku rasa tak bisa menyata. Gak lolos PM 3 setelah ikut DA, membuatku merasa kecewa. Dan semangat untuk coba-coba ikut daftar PM4 timbul disaat detik-detik terakhir penutupan, dan setelah menjalani serangkaian tes maka akupun dinyatakan sebagai calon pengajar muda.
Pelatihan panjang selama 7 minggu memberiku banyak pemahaman baru, walauun aku selalu merasa tak nyaman dengan kenyataan bahwa aku PM4 yang paling tua dan paling kecil. Merasa tak sehebat teman-teman PM yang lain.
Hingga akhirnya, takdir membawaku ke sebuah dusun dipinggir gunung Tambora dan laut Flores yang bernama UPT SP3, sebuah pemukiman transmigrasi di Kabupaten Bima. Aku sempat berpikiran , apa masih dibutuhkan mentri transmigrasi di jaman Indonesia sekarang ini. Ternyata aku diberi kesempatan hidup sebagai warga transmigran.
Dusunku begitu indah. Kombinasi dari pantai, gunung, sabana. Ditambah lagi dengan mengalirnya sungai Oi Marai sepanjang tahun yang membuatku tak pernah merasa khawatir dengan segala kebutuhan dasar yang berhubungan dengan air.
Untuk menuju ke dusunku diperlukan perjuangan yang lumayan. Dari Bandara Salahudin Bima, naik ojeg menuju terminal Dara sekitar kurang lebih setengah jam. Ongkosnya mungkin 20-30rb. Dari terminal Dara, cari bus yang menuju Tambora. Untuk pergi ke dusunku, bisa menggunakan dua jalur. Jalur utara atau selatan. Jika ingin menggunakan jalur utara, harus tiba diterminal Dara sebelum jam 11. Kemudian carilah bus yang menuju Kore, ongkosnya Rp 20.000. Perjalanan dari Terminal Dara ke Kore sekitar 5 jam, tergantung kecepatan busnya. Kore terletak di Kecematan Sanggar, termasuk Kab Bima juga tetapi untuk menuju kesana harus melewati Kab Dompu. Kec Sanggar dan Tambora merupakan dua-duanya Kecamatan yang termasuk wilayah Kabupaten Bima tetapi terletak jauh sendiri di kelilingi Kab Dompu. Mengapa bisa demikian? Katanya dulu Bima, Dompu dan Sanggar merupakan Kerajaan tersendiri. Karena putra mahkota Kerajaan Sanggar masih sangat muda semesntara rajanya sudah wafat, maka Sanggar menyatakan tunduk ke Kerajaan Bima dan menjadi bagian dari wilayah Bima. Entah alasan apa yang membuat Sanggar lebih memilih Bima daripada Dompu yang jelas-jelas berada lebih dekat. Barulah setelah kemerdekaan, Bima, Dompu menjadi Kabupaten, Kecamatan Tambora merupakan pemekaran dari Kecamatan Sanggar.
Bus akan berhenti di terminal Kore, namun harus naik ojeg dulu menuju pasar Kore supaya bisa dapat kendaraan yang menuju Tambora. Tukang ojeng biasanya meminta uang Rp 5.000,- Di pasar Kore, akan ditemui Bus atau truk tergantung jadwal beroperasinya. Dua jenis kendaraan inilah yang akan membawaku menuju dusun tercinta, tepat berhenti di depan rumah orang tua angkatku. Biaya yang harus dikeluarkan untuk menumpangi kenaraan tersebut dalah Rp 30.000,- Bus atau truk beroperasi gantian. Setelah 4 jam perjalanan barulah akan sampai di dusun SP3, jalanannya luar biasa. Sebagian besar belum beraspal, hanya beralaskan kerikil dan pasir dengan jurang dan tebing di kanan kirinya. Laut Flores, Sabana dan pemandangan eksotis Gunung Tambora akan menemani selama perjalanan. Luar biasa, menikmati panorama alam yang jarang-jarang dilihat selalu membuat otakku yang agak-agak jenuh menjadi cling lagi. Tak jarang, aku menemukan kuda-kuda yang sedang diliarkan di sabana. Kalau kambing dan sapi sudah menjadi pemandangangan yang tidak aneh lagi.
Aku paling senang bisa melewati jalanan ini, tetapi kejadian luar biasa yang bertepatan dengan tiga bulannya aku di Bima membuatku sedikit trauma melewati jalanan ini. Busku terguling saat aku pulang da Bima. Benar-benar tergulng, dan aku ada di dalamnya. Alhamdulillah selamat, hanya luka ringan di kelingking dan jari manis tangan kiriku  dan benjol di kening saja. Tetapi sensasi rasa dan suasana saat bus tak kuat nanjak kemudin oleng kanan kiri berulng-ulang hingga akhirnya terguling masih sangat terasa sehingga membuat aku tak berani menaiki bus yang melewati jalur itu.
Bus/ truk dari Kore akan menunggu penumpang dari Bima yang menuju Tambora lewat jalur utara sampai benar-benar tak ada. Sekitar pukul 3 atau 4an barulah berangkat menuju Tambora. Bus/ truk ini akan mengantarkanku tepat berhentti di depan rumah orang tuaku antara magrib dan Isya.
Kalau melewati jalur utara, maka akan ditemui dua sungai yang membelah jalan raya Sungai pertama adalah Sori Ketupa d Desa Oi Ketupa. Sori berarti sungai dan Oi artinya air. Mandi di Sori Ketupa seolah-olah menjadi prosesi wajib supir dan kernet bus dari Kore ke Tambbora. Bus akan berhenti sekitar 15-30 menit dan penumpang puun boleh melakukan aktivitas bebas asa tak meninggalkan bus terlalu jauh. Sori Ketupa juga menjadi batas daerah bersinyal terakhir sebelum blank spot sampai SP2.

Selasa, 16 Oktober 2012

Bang Bing Bung, nyok Kita Nabung!



Panen Jambu mete tiba, saatnya warga SP 3 mendapatkan rezeki melipah ruah. Jambu mete merupakan satu-satunya penghasilan sebagian besar warga SP 3. Tak hanya orang tua mereka yang mendapat banyak uang, anak-anaknya pun kecipratan. Anak-anak yang juga ikut membantu orang tuanya memetik biji jambu mete, mendapatkan uang saku yang lebih besar dari bulan-bulan sebelumya yang terkadang tidak diberi uang sama sekali. Hal ini berdampak pada tingkat komsumtivitas anak-anak yang meningkat. Mereka menghabiskan uang sakunya untuk jajan di sekolah. Di sekolah kami tidak ada kantin, Suharni yang menjajakan jajan (istilah untuk makanan) menjadi serbuan utama anak-anak.
Saya merasa sedih melihat anak-anak bolak balik membeli jajan. Bukan tak ikut bahagia dengan rezeki tambahan yang didapatkan Suharni, tetapi seharusnya anak-anak bisa mengatur uang yang didapatkannya tidak tiap bulan itu.
“Nabung yuk” lontar saya pada Atun. Atun adalah murid saya, siswa kelas 5.
“Nabung di Ibu?” tanyanya.
“Iya” jawab saya. “Besok anak-anak bleh nabung di Ibu, hari ini Ibu akan buat buku tabungannya” tambah saya.
Di dusun saya tidak ada penjual buku tabungan, toko perlengkapan alat tulis pun tidak ada. Saya memotong kertas A4 dan menjadikannya 4 bagian kemudian diberi cover kertas warna dan distemples dua kali di bagian tengah atas dan bawah. Jadi deh buku tabungan warna warni.
Besoknya, saya mengumumkan kepada anak-anak kalau ada yang ingin menabung boleh dititipkan uangnya kepada saya. Saya memberikan contoh berapa kira-kira nominal uang yang bisa diperoleh kalau mereka rajin menabung walaupun hanya Rp 500 atau Rp 1.000 setiap harinya. Saya jelaskan juga bahwa mereka bisa membeli baju, tas atau barang lainnya dari uang tabungan mereka sendiri. Di luar dugaan, semua anak kelas 5 antusias. Semuanya menyetokan uang yang tak sedikit. Mereka mulai mengatur uangnya, berapa yang ditabung berapa yang dijajankan.
Senanng rasanya melihat anak-anak lebih antusias menabung daripada jajan. Kehebohan menabung di kelas 5 menular kepada anak kelas lainnya. Saya yang juga mengajar bahasa Indonesia di kelas 6 dminta untuk menyimpankan uang tabungan mereka. Saya merekomendasikan wali kelasnya yang memegang, tetapi Pak Sapii yang merupakan walikelas 6 meminta saya saja yang memegang uangnya.
Kelas 3 pun tak ingin kalah, melihat kakak-kakak mereka yang memamerkan buku tabungan warna warni dan nominal uang di dalamnya, mereka pun minta saya menyimpankan uang mereka. Saya limpahkan permintaan anak-anak kepada Pak Mus Guru Kelas 3, Pak Mus pun berpendapat sama dengan Pak Sapii.
Bagaimana dengan kelas 4 yang teman berbagi kelas dengan kelas 5? Sebelum anak-anak memnta saya menyimpankan uangnya, saya terlebih dahulu memberikan buku tabungan warna warni kepada Bu Ani walikelasnya untuk dijadikan buku tabungan kelas 4.
“Gratis kan Bu?” tanya Bu Ani.
“Hehe, gratis dong Bu” jawab saya.
Kalau ada anak kelas 1 dan 2 yang mau nabung, saya sudah menyiapkan buku tabungan untuk diberikan kepada wali kelas 1 dan 2.  Untung jumlah seluruh siswa sekolah kami hanya 60an anak, jadi saya tidak terlalu kerempongan membuat banyak buku tabungan.
Semakin hari nominal uang yang ditabungkan semakin mengecil. Tetapi anak-anak tetap rutin menabung.
“Bu, kalau hari Raja uang tabungan saya bisa diambilkan Bu? Saya mau beli baju baru” tanya Ima.
“Iya, nanti uangnya Ibu bagikan saat kenaikan kelas, saat tugas Ibu mengajar disini selesai. Itu sebelum hari Raja, jadi Ima bisa beli baju baru untuk hari Raja” jawab saya.
Yah, hari itu tinggal 8 bulan lagi. Mengapa waktu berlalu begitu cepat berlalu. Sepertiga perjalanan telah saya lalui.