It is not about position, it is about contribution

Rabu, 24 Agustus 2016

Mengapa Saya (harus) Menulis?


Bagi saya menulis adalah jembatan untuk mewujudkan mimpi.
Menulis bisa mengungkapkan apapun yang ada di dalam pikiran saya. Sering kali ide datang meluap-luap, namun menguap begitu saja jika tidak ditorehkan dalam tulisan. Setiap ada ide, maka saya menuliskannya. Kemudian mengelaborasikannya menjadi langkah-langkah kecil yang harus saya lakukan.

Saya menulis 100 mimpi yang ingin saya capai. Qodarullah, Allah mewujudkannya satu persatu dengan caranya yang indah.

Jika saya lelah dan lemah, saya buka kembali catatan mimpi-mimpi saya, maka kekuatan pun muncul. Semangat dan perasaan menggebu ketika saya menuliskannya, seolah menghipnotis saya yang lelah untuk segera bangkit.

Ada satu mimpi yang ingin saya capai melalui menulis. Saya ingin menulis cerita anak. Cerita yang bisa menginspirasi membangun karakter mereka sedari dini sehingga kedepannya mereka dapat berperilaku positif.
Hal itu pernah saya alami. 

Sewaktu kecil, saya membaca sebuah cerita anak di majalah Bobo. Berkisah tentang seorang penjual daging sapi. Sebut saja Mbok A (saya lupa lagi siapa nama tokohnya). Mbok A, menambahkan potongan batok kelapa ditimbangannya dagingnya sehingga dia mendapat untung lebih banyak.
Suatu hari dia sakit hingga absen berdagang berhari-hari. Setelah dia berdagang lagi, pelanggannya yang rata-rata tukang sate tidak membeli daging sapi kepadanya lagi. Bagi pedagang sate, satu-dua ons sangat berharga karena akan memperbanyak jumlah potongan satenya.
Apa lesson learned dibalik cerita tersebut? Kita harus menjadi orang yang jujur dan amanah, tidak boleh curang.

Cerita tersebut terngiang-ngiang terus di telinga saya sehingga saya bertekad untuk menjadi orang yang jujur dan amanah.

Ya, sedahsyat itu sebuah tulisan sehingga dapat menginspirasi. Tentu saja tulisan-tulisan di sekitar kita tidak selamanya positif. Banyak tulisan yang justru menginspirasi orang lain untuk berbuat tidak baik.

Saya memilih untuk menjadi bagian dari orang yang menyebarkan kebaikan melalui tulisan.

Selasa, 23 Februari 2016

Etika Menjenguk Bayi

Sedang heboh cerita ini 

http://viralcaripasal16.blogspot.co.id/2016/02/pergilah-sayang-mama-halalkan-susu-mama.html?m=1

Intinya bayinya meninggal karena terjangkiti virus dr yg menjenguk bayinya.. 😓😓

Tentu saja saya ikut khawatir, walau bayi masih di perut. Apalagi kebiasaan mengunjungi bayi yang baru lahir oleh saudara2 atau tetangga adalah hal yg dianggap  budaya bermasyarakat.

Menemukan artikel mengenai etika menjenguk bayi dan beberapa tips dr teman.

Untuk yang berkunjung :
1. Tidak memakai parfum yg menyengat (sebaiknya tidak memakai parfum)
2. Tidak menggendong dan mencium bayi
3. Mencuci tangan dg sabun 
4. Tidak merokok
5. Jika sedang kurang sehat sebaiknya tidak menjenguk bayi
6. Memakai pakaian yang bersih

Untuk Ibu/ keluarga bayi sebaiknya :
1. Menyampaikan kepada keluarga terdekat untuk sama2 membantu mengondisikan sang penjenguk
2. Sediakan hand sanitizer dan masker
3. Memberikan pengertian kepada yang menjenguk
4. Menggunakan waktu dg bayi jika mulai merasa terganggu (nenenin)

Hal ini bukan karena Ibu berlebihan menjaga bayinya, tetapi sama2 kita ketahui kalau bayi rentan dg penyakit.

Rabu, 10 Februari 2016

光ナニ: Sudah Siap Melahirkankah??

光ナニ: Sudah Siap Melahirkankah??



Sudah Siap Melahirkankah??


"Melahirkan adalah karunia, bukan penyakit  jadi tidak usah khawatir karena Allah sudah menciptakan organ manusia sedemikian sempurnanya dan mengatur dengan sebaik-baiknya." Begitulah kutipan seorang teman yg menenangkan kegelisahan bumil-bumil yang mendekati hari persalinannya.

Ya, saya termasuk yang gelisah dan khawatir menghadapi hari persalinan. Dalam beberapa minggu, saat itu akan tiba. In Sya Allah. 

Hari ini kehamilan saya sudah memasuki 35 minggu lebih 3 hari, walaupun HPLnya pertengahan Maret namun harus mulai berjaga-jaga semenjak memasuki minggu ke 37. Alhamdulillah, perlahan-lahan kekhawatiran itu hilang, malah semakin ke sini semakin semangat menanti kehadiran buah hati di pangkuan. 

Setelah direnungi, apa yang membuat kekhawatiran saya menghilang?

1. Dukungan suami
Kehadiran suami adalah hal yang sangat berharga semasa kehamilan. Beberapa perubahan fisik maupun psikis saya rasakan seperti merasa lebih sensitif, cepat lelah dan gampang berubah mood, dll. Untunglah suami memahami hal tersebut dengan baik. Misalnya, dia selalu membuatkan susu dan memijat sebelum tidur, memahami kalau saya lelah sehingga tidak menuntut dilayani dan disiapkan segala keperluannya, memahami perubahan emosi saya sehingga jika istrinya mulai moody dialah yang menyesuaikan dengan menghibur dan memanjakan. Tak jarang kejutan-kejutan dan hadiah lucu dia siapkan untuk saya.

2. Dukungan keluarga
Saya berencana melahirkan di dekat keluarga besar, dukungan keluarga saya rasakan begitu berharga membantu kesiapan saya. Misalnya orang tua yang telaten menanyakan perkembangan kehamilan dan bersedia direpotkan kapan saja. Keluarga juga menjadi tempat diskusi dalam rencana-rencana lahiran dan pascalahiran seperti tempat yang sesuai untuk melahirkan, rencana aqiqah, termasuk mensupport beberapa perlengkapan bayi..hehe

3. Persiapan fisik
Dua kali mengikuti senam hamil di rumah sakit, download tutorial senam hamil, rajin senam hamil dan jalan kaki membuat saya merasa lebih siap secara fisik untuk melahirkan. Serasa anak SMA yang sudah siap mengikuti UN karena sudah belajar sebelumnya walaupun tidak bisa memprediksi soal yang akan keluar, namun lebih percaya diri.

4. Rajin check up ke dokter
Pada kehamilan pertama ini saya dan suami hampir setiap bulan berkonsultasi ke dokter. Walaupun memang diperlukan alokasi anggaran khusus. Namun hal itu membuat semakin tenang dalam menjalani kehamilan dan persiapan melahirkan. Mengetahui kondisi janin baik-baik saja dan tumbuh sehat membuat segala kepayahan selama kehamilan menghilang. Walaupun sejujurnya saya tidak pernah menghabiskan vitamin yang diberikan dokter..hehe

5. Dukungan teman-teman
Alhamdulillah, ada 13 orang teman lainnya yang sudah melahirkan dan sedang hamil. Sehingga kami membuat grup khusus dan berbagi tips dan cerita seputar kehamilan dan melahirkan. Pengalaman teman-teman yang sudah mengalami duluan membuat semakin tenang dan  siap menghadapi proses persalinan. Selain itu, teman di kantor baik yang sudah berpengalaman melahirkan ataupun yang masih single selalu telaten menanyakan kabar atau membawakan makanan yang lucu-lucu. 

6. Membeli dan mempersiapkan perlengkapan bayi
Jujur, setelah membeli beberapa perlengkapan bayi saya merasa semakin siap dan terkadang ada perasaan tidak sabar menunggu perlengkapan tersebut ada yang memakainya. Semangat dan motivasi untuk selalu menjaga kondisi fisik dan mempersiapkan persalinan dengan baik selalu terisi penuh setiap kali melirik tumpukan perlengkapan bayi.

7. Ibadah
Solat, tilawah dan berdoa selalu membuat hati semakin tenang dan yakin bahwa Allah telah mengatur dan menjaga sedemikian rupa sehingga pasti semuanya akan terlewati dengan baik. Selalu husnudzon kepadaNya. Bismillah..

Mudahkan dan lancarkanlah ya Rabb, mudahkan hamba dalam mengandung dan melahirkan. Lancarkanlah prosesnya, sehatkan bayi, Ibu dan keluarga. Sempurnakan fisik, iman, akal, ahlak anak hamba, mudahkan dan berkahilah dia dalam mencari ilmu dan rezeki yang halal, mudahkan dia dalam menemukan jodoh, jadikanlah dia anak yang berbakti bagi orang tua, bermanfaat untuk sesama dan agama.. Aamiin

#35w3d

Yes, In Sya Allah saya siap melahirkan :D


Senin, 10 Agustus 2015

Sakinah Bersamamu

30 Januari 2015, hari di mana dia mengucapkan akad yang menjadikan kami mempunyai ikatan seumur hidup. Laki-laki yang aku kenal dua tahun pada training intensif IM, sekelompok fasil pertama, sekabupaten penempatan, sekecamatan, ternyata adalah jodoh yang telah Allah siapkan untukku.

7 April 2014, dia mengutarakan niatannya untuk menjadikanku pendamping hidupnya.
11 Oktober 2014, dia melamarku.


Ya Allah jadikan dia pendampingku di dunia dan di akhirat.

Aamiin