Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Kamar Optimis

Jika Shally punya tempat bernama ruang kegagalan, maka aku harus punya kamar optimis. Yah, harus optimis! Terkadang banyak sekali kekhawatiran yg menghinggapi pikiranku. Takut ini takut itu, takut gagal, takut kehilangan,... Mengapa harus takut? Selama sudah maksimal berikhtiar. Ingatlah, tak semua hal bisa kita kendalikan. bismillah..., kerjakan dg teliti, manajemen waktu yg baik, tidak menunda pekerjaan. InsyaAllah semua bisa sesuai dg harapan. InsyaAllah

Mandiri

Teringat lagu 'Aku Anak Mandiri' yang sering dinyanyikan Morin :p Aku anak mandiri penuh percaya diri masa depan kuraih pasti Lagunya berkisah tentang anak berkebutuhan khusus yang bisa mandiri melakukan segala sesuatu untuk kebutuhan hidupnya. Hmm, menelisik kata mandiri. Dengan umurku sekarang, harusnya aku sudah sangat bisa mandiri. Kalau laki-laki harusnya mapanlah. Tapi.. Aku merasa kata mandiri itu kadang-kadang menempel dibelakangku, terkadang aku justru merasa bergantung dengan orang lain. Dan itu kelemahanku, ketika aku merasa dekat dan nyaman dengan seseorang maka aku akan membagi semuanya dengannya. Bahkan semua kemandirianku. Bergantung semua kepadanya. Padahal itu tidak seharusnya, aku masih harus melangkah dengan gagah berani. Tak boleh bergantung kepada orang lain. Oke,, mulai sekarang aku harus tetap bisa melenggang dg tenang..

Hadapi!!!

Tiba-tiba mendadak takut dan banyak kekhawatiran. Takut tak bisa beradaptasi dg ritme kerja baru, takut gak optimal, takut,,, bismillahirrahmanirrahim.. Mudahkan semuanya ya Rabb. Setiap langkah yg hamba jejaki. Selalu yakin, i never walk alone because of You always by my side

dua kali lagi

Dua kali lagi.. Hanya dua kali. Semuanya berjalan begitu cepat, hanya satu minggu saja tapi telah meninggalkan jejak. Seperti pertemuan yang tak pernah direncanakan, perpisahan pun tak terelakan. Semua tertulis pada naskahNya. Tak ada yg mesti disesali, nikmati setiap episode kehidupan karena pada akhirnya akan menjadi cerita besar..

Kecocokan Jiwa

Tak semua orang bisa nyaman ketika diajak berdiskusi, bercanda, apalagi bekerja. Ada teman yang enak diajak kerja tapi tidak enak diajak main-main. Ada juga yang sebaliknya. Enak disini dalam arti nyaman, sama-sama tahu bagaimana memposisikan diri tergantung kondisi. Selama setahun di Bima, berinteraksi dengan 8 PM yang lain. Walau di awal harus berdarah2 saat proses adaptasi, namun ternyata merasakan kecocokan jiwa. Meraka tahu apa yang harus dilakukan ketika salah satu dari kita menjadi leader. Tak usah diingatkan, pasti akan mengambil peran masing-masing dan menyesuaikan. Karena sama-sama paham tujuan, misi yang kita emban dan menyadari bahwa ini bukan tentang diri sendiri. Satu tahun sudah berlalu, saya dihadapkan dengan kondisi yang berbeda, dengan orang-orang yang baru. Dan luar biasa, mengalami gejolak kontroversi hati karena tidak menemukan orang yang sekongkrit dan serespek PM Bima dalam bekerja. Visi mungkin sama, tapi tak diiringi langkah nyata. Mencoba menjadi fasilitat…

Salah Jurusan??

Tidak ada yang salah dengan jurusan yang dipilih saat kuliah, karena pada dasarnya setiap ilmu bermanfaat dan bisa mengantarkan yang benar-benar menggelutinya ke puncak karir. Yang salah adalah orang yang tidak membidangi satu bidang apapun.. Hufft, tiba-tiba merasa minder ketika berinteraksi dg teman yg punya gelar dokter, sarjana teknik, master desain dan mereka benar-benar ahli di bidangnya. Kemanakah si saya selama ini sampai tidak menyadari bahwa mahasiswa/ lulusan sastra Jepang harus benar-benar bisa ekspert bahasa Jepangnya?
Saya sendiri hampir lupa kapan terakhir belajar bahasa Jepang dg sungguh-sungguh, mungkin hanya tingkat satu (IPK masih membanggakan 3,36). Namun setelah mengenal organisasi dan terlena disana, saya tidak peduli lagi dg nilai dan pemahaman bahasa Jepang. Yang penting bisa sidang dan jadi sarjana. Alhamdulillah IPK bisa tetap diatas 3 ketika lulus kuliah. Penyakit saya itu terjadi ketika SMA jg, prestasi yg gilang gemilang di SMP (Nem Tertinggi se sekolah)…