Menolak Rezeki

Hari itu hari Jumat. Aku, Morin, Ical, Budi melaksanakan kegitan Roadshow Pendidikan Indonesia Mengajar di SDN Dorombolo dan Sori Panihi. Sekolah terakhir yg kami tuju hari itu adalah Sori Panihi yg terletak di SP1. Sementara Ical dan Budi solat, aku dan Morin menunggu di puskesmas. Aku sama Morin sedikit kaku dan dingin. Morin abis marah karena aku negur dia main ukulele disaat kami sedang menghadap guru2 dan kepsek Sori Panihi. Ah, kadang2 semua terasa begitu ribet...hehe
Budi dan Ical segera menghampiri kami seusai solat Jumat. Katanya mereka ditawari makan siang oleh orang yg punya hajatan, rumahnya persis di depan puskesmas. Namun karena malu, kami memutuskan untuk menolak. Mengingat2 adakah alasan lain selain malu? Oia, yg ditawari makan Ical sama Budi, aku dan Morin yg tidak ikut solat jumat tidak bertemu yg punya hajat jadi tak ditawari.
Akhirnya kami segera pergi mencari bakso Mas Sue di Kawinda Nae, ternyata tutup. Paniklah, Ical yg gak bisa nahan lapar mulai pusing, gak bisa bawa motor dg baik. Morin yg punya Kakak angkat disana berinisiatif mengajak kami ke rumahnya, pas sekali ketika kami datang kakak ipar morin pergi ke Kenanga (desa Morin).
Mencari warung nasipun tak ada, kawinda Nae berada di tengah2 antara desaku dg desa Morin. Ke desaku diperlukan waktu 1 1/2 jam, ke desanya Morin 1/2 jam.
Tiba2 kami teringat kepala sekolah SDN Kenanga 2 yg rumahnya sebrang rumah kakak angkat Morin. Beliau pernah meminta kami datang dan menjanjikan akan menjamu kami.
Dengan malu2, kami pun bertamu. Bapaknya begitu ramah tapi sama sekali tak menawarkan makan bahkan segelas air dan makanan ringanpun. Setelah menunggu lama dan tak juga disuguhi akhirnya kami pamitan.
Karena kalau menuju desaku terlalu jauh sedangkan kondisi kami yg kelaparan tidak memungkinkan, kami pun memacu motor menuju desa Morin. Alhamdulillah, Ina memasak uta mbeca kacang. Sangat mengobati rasa lapar kami. Subhanallah sayur kacang terasa nikmat sekali.
Menjelang sore, kami pamitan untuk kembali menuju rumahku. Barang2 kami ada disana, dan besik hari Sabtu, harinya kami untuk berjalan2 kembali menjelajahi bumi Tambora.
Di perjalanan aku dan Budi berdiskusi, "mungkin karena kita menolak makan di yang punya hajatan makanya repot seperti ini nyari makan. Allah sudah jelas2 menyediakannya untuk kita tapi kita malah menolaknya. Jangan sampai kita menolak rezeki dari Allah ya Teh" katanya.
 
Mungkin kejadian kurang dari setaun itu sedang terjadi padaku. Menolak rezeki yg Allah berikan. Ya Allah maafkan hambaMu yang bodoh ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bu, Mohon Tidak Sembarang Memberikan Makanan kepada Anak Orang Lain

Aliran Rasa Bunda Sayang Game Level 5